POINT OF VIEW

Just Share

Mengenai Debat Capres 22 Juni 2014

Debat capres yang ketiga ini sebenarnya sangat menarik kalau ditunggu, terutama kebijakan luar negeri. Kita tahu kalau negeri ini punya cukup masalah dengan yang satu ini. Kedua capres diharuskan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan dari panelis. Sebenernya sih, saya sendiri cuma nunggu pertanyaan panelis yang ada hubungannya dengan sengketa wilayah karena dari sinilah nanti terlihat bahwa nantinya capres-capres ini menurut saya punya taring waktu ada masalah ini dengan negara tetangga.
Masalah sengketa wilayah sebenarnya bukan hanya masalah politik, namun di situ juga berperan sains dan teknologi. Jalur diplomasi mungkin perlu tetapi juga tidak akan berguna katika tidak menguasai sains dan teknologi. Mungkin kita menilai pemerintah sangat lambat ketika wilayahnya diserobot oleh negara-negara tetangga sekitar Indonesia sampai-sampai negara tetangga itu berani membangun menara suar perbatasan. namun di sisi lain pemerintah kita saat melakuakn diplomasi masalah ini dengan negara tetangga, boleh dikatakan kalah terus-terusan, lantaran tidak sadar bahwa batas wilayah Indonesia semakin bergeser lantaran faktor alam, dan sayangnya pemerintah masih saja berpatokan dengan penetapan batas wilayah yang buatan tahun 60an. Di sisi lain, pemerintah negara tetangga 'mungkin' sudah meng update peta wilayahnya ke tahun yang terbaru. sehingga mereka berani mengklaim bahwa wilayah sengketanya merupakan wilayahnya.
Dasar pemikiran ini dari Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, yang memberi kuliah tamu di kampus saya beberapa waktu lalu. Sebenarnya kuliah tamu yang beliau sampaikan terkait masalah Synthetic Aperture Radar (SAR) yang telah beliau buat dan juga masalah sensing yang memang keahlian beliau, namun beliau juga mempresentasikan hasil dari perangkat yang telah dibuat. Salah satu hasil yang belaiu amati di wilayah Indonesia dan sekitarnya adalah, terlihat bahwa daratan australia terus bergeser ke arah utara (lupa berapa cm per tahun) dan secara umum seluruh wilayah indonesia dan wilayah negara sekitarnya juga bergeser ke arah utara mendekati daratan asia. Dari sinilah saya menarik kesimpulan bahwa wilayah indonesia memang semakin sempit lantaran faktor alam, bukan diserobot oleh negara tetangga.
Sebenarnya debat kemarin saya cuma nunggu jawaban yang semacam itu di atas, namun kenyataannya baik Prabowo maupun Jokowi cuma mengatakan hal yang klise, yaitu akan berdiplomasi jika terjadi sengketa wilayah. Ya, mungkin saja kalau saya bayangkan ketika berdiplomasi malah pemerintah Indonesia ditertawakan sama negara tetangga yang bersengketa, apalagi pemerintah indonesi patokannya peta wilayah tahun 60an, coba hitung sekarang, tahun 1960 sampai 2014, itu sudah 54 tahun, dan kita anggap jarak pergeseran wilayah daratan australia (dan juga wilayah daratan indonesia secara keseluruhan ) sepanjang 12 cm per tahun ke arah utara. jadi dikalikan saja 12 cm X 54 tahun = 648 cm atau 6,48 meter. itu sudah seperti tanah dan rumah tetangga sebelah sudah geser masuk ke tanah dan rumah kita sendiri, terus kita masih mau bilang kalau rumah dan tanah itu milik kita? kan nggak mungkin juga, mau nggak mau ya buat ukuran baru dari yang ada sesuai kesepakatan dengan tetangga.
Dari debat itu memang sempat tercetus kata drone, atau kalau saya biasa bilang sih Unmanned Aerial Vehicle (UAV) namun hal itu juga tidak akan maksimal jika hal yang utama, yaitu pemetaan kembali wilayah Indonesia tidak dilakukan, dan lagi-lagi kalau cuma jalur diplomasi dan cuma mengatakan "itu wilayah kami" kita tidak akan dianggap dan cuma jadi bahan lelucon apalagi cuma menunjukkan bukti peta wilayah ketinggalan jaman. Yang lebih baik adalah diplomasi dengan menentukan wilayah perbatasan baru, terutama pada batas laut yang memang tidak dapat terlihat.
more..

Tentang Earth Hour, untuk Kehidupan Bumi yang Lebih Baik (katanya), Benarkah?

Earth hour, kalau di Bahasa Indonesiakan sih jadi Jam Bumi, yang saya ingat gerakan ini dimulai waktu saya sma kelas 1 kalo gak salah waktu menonton metro tv yang memang waktu itu sering menayangkan apapun dari tv berita luar negeri. kalau lihat di wikipedia, Earth hour ini adalah kegiatan global yang dimotori oleh World Wide fun for the Nature (WWF) setiap sabtu pada akhir maret setiap tahunnya dengan cara mematikan lampu yang tak terpakai selama 60 menit untuk meningkatkan kesadaran tentang perubahan iklim serta berhemat energi.
Awalnya kegiatan ini saya pandang positif untuk hemat energi, tapi lama-kelamaan kok pikiran saya mulai mengganjal, apa bener?
Yak.. mungkin kalo ada yang baca ini (kalo ada sih hehehe) terutama kawan-kawan yang orang elektro, mungkin tau gejala transien, yang dipelajari di Mata Kuliah Rangkaian Elektrik atau Rangkaian Listrik (beda tempat kuliah biasanya beda nama), mata kuliah yang katanya paling horor kalo masuk elektro lantaran sering banget yg gagal, hehehe.. Okelah balik lagi ke Gejala transien.
Gejala transien merupakan gejala alami yang terjadi pada suatu rangkaian elektrik saat rangkaian elektrik tersebut dihubung buka (saklar off) ataupun dihubung singkat (saklar on). Gejala ini terjadi pada komponen kapasitif dan induktif dimana pada komponen tersebut energi yang diterima dan dilepaskan tidak dapat berubah seketika. kalo contoh grafik visualnya di kapasitor ini ada, saya nyomot dari website lain
Gambar gejala transien pada kapasitor

kalau dilihat, itu sinyal sinusoida kan ada yang grafiknya gak beraturan, nah itu dia gejala transien. Di komponen induktif juga ada cm gak nemu gambarnya hehehe..
kalau dikaitkan ke Gerakan Earth Hour, maka gerakan ini justru malah memboroskan energi, memang sebenarnya gejala transien ini terjadi sangat singkat, ordenya milisekon (bahkan kurang), tapi coba bayangkan, lampu merupakan beban listrik yang punya komponen induktif. Saat Earth Hour lampu dimatikan  lalu dihidupkan kembali kurang lebih responnya listrik seperti itu, kegiatan earth hour dilakukan hampir di seluruh dunia, nah saat peralihan inilah konsumsi energi justru lebih besar ketimbang saat lampu itu menyala. contoh paling gampang, kalau kita hidupkan lampu TL (orang sih nyebutnya lampu neon)kita tahu sebelum lampunya nyala starternya dulu yang nyala lalu lampunya. itu kan sebenernya butuh energi yang lebih besar.
Jadi, sampai saat ini kalau katanya earth hour itu dapat mengurangi konsumsi energi, saya sendiri malah masih ragu.
Yah itulah kenapa sampe sekarang saya termasuk orang-orang skeptis tentang earth hour. mungkin ilmu yang saya dapat memang gak banyak yang cuma saya cuma tahu itu. kalau beda pendapat boleh-boleh aja dong..

more..

Hisab vs Rukyat.. kok Selalu ya..?

kenapa sih, kok terus-terusan orang-orang yg punya ilmu agama mumpuni selalu berantem waktu nentuin bulan Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah? kenapa kok satu sama lain selalu menyalahkan cara menentukan ketiga bulan tersebut? Hisab dipermasalahkan karena (katanya) nggak ada dalilnya dan menjurus bid'ah, dan rukyat dinilai sudah mulai susah untuk diandalkan dikarenakan banyak faktor. Padahal semua itu nggak ada yang salah kok, rukyat memang punya dalilnya sendiri dan hisab ada sendiri.
Nah, mengapa kok saya berani ngomong keduanya memiliki dalilnya sendiri-sendiri, saya ingin mencoba menjelaskan tentang keduanya bermodal ilmu yang nggak begitu tinggi.
Perbedaan dalam penentuan bulan qamariyah, khususnya bulan Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah sudah terjadi beberapa abad lalu dalam peradaban Islam. ada dua pandangan yang terkait dengan penentuan bulan Qamariyah, yaitu

  1. Yang menyatakan bahwa penentuan bulan Qamariyah adalah dengan rukyat, yaitu melihat bulan baru secara fisik dan nyata yang didukung sebagian besar para ulama
  2. Yang menyatakan bahwa penentuan bulan qamariyah dengan hisab falaki dan terkadang dipandang lebih utama dikarenakan cara rukyat terkadang susah dan tidak akurat. ini didukung dengan perkembangan ilmu falakiyah atau astronomi yang semakin berkembang.  pandangan ini didukung oleh beberapa ulama-ulama besar seperti  Muhammad Rasyid Ridha, Mustafa Ahmad az-Zarqa, Ahmad Syakir dan Yusuf al-Qaradawi.
Untuk dalilnya, banyak kok. cuma saya nggak bisa nulis satu-satu. lantaran terbatasnya ilmu tapi yang jelas, apapun itu nggak ada yang salah. dan juga renungkan. kalender qomariah sampe saat ini masih kalah sama kalender syamsiyah. mengapa? karena kalender qomariah belum ada kepastian dalam penentuannya. Semoga ke depannya bisa akur dan bisa dibuat kalender tetapnya.
more..