POINT OF VIEW

Just Share

Tentang Earth Hour, untuk Kehidupan Bumi yang Lebih Baik (katanya), Benarkah?

Earth hour, kalau di Bahasa Indonesiakan sih jadi Jam Bumi, yang saya ingat gerakan ini dimulai waktu saya sma kelas 1 kalo gak salah waktu menonton metro tv yang memang waktu itu sering menayangkan apapun dari tv berita luar negeri. kalau lihat di wikipedia, Earth hour ini adalah kegiatan global yang dimotori oleh World Wide fun for the Nature (WWF) setiap sabtu pada akhir maret setiap tahunnya dengan cara mematikan lampu yang tak terpakai selama 60 menit untuk meningkatkan kesadaran tentang perubahan iklim serta berhemat energi.
Awalnya kegiatan ini saya pandang positif untuk hemat energi, tapi lama-kelamaan kok pikiran saya mulai mengganjal, apa bener?
Yak.. mungkin kalo ada yang baca ini (kalo ada sih hehehe) terutama kawan-kawan yang orang elektro, mungkin tau gejala transien, yang dipelajari di Mata Kuliah Rangkaian Elektrik atau Rangkaian Listrik (beda tempat kuliah biasanya beda nama), mata kuliah yang katanya paling horor kalo masuk elektro lantaran sering banget yg gagal, hehehe.. Okelah balik lagi ke Gejala transien.
Gejala transien merupakan gejala alami yang terjadi pada suatu rangkaian elektrik saat rangkaian elektrik tersebut dihubung buka (saklar off) ataupun dihubung singkat (saklar on). Gejala ini terjadi pada komponen kapasitif dan induktif dimana pada komponen tersebut energi yang diterima dan dilepaskan tidak dapat berubah seketika. kalo contoh grafik visualnya di kapasitor ini ada, saya nyomot dari website lain
Gambar gejala transien pada kapasitor

kalau dilihat, itu sinyal sinusoida kan ada yang grafiknya gak beraturan, nah itu dia gejala transien. Di komponen induktif juga ada cm gak nemu gambarnya hehehe..
kalau dikaitkan ke Gerakan Earth Hour, maka gerakan ini justru malah memboroskan energi, memang sebenarnya gejala transien ini terjadi sangat singkat, ordenya milisekon (bahkan kurang), tapi coba bayangkan, lampu merupakan beban listrik yang punya komponen induktif. Saat Earth Hour lampu dimatikan  lalu dihidupkan kembali kurang lebih responnya listrik seperti itu, kegiatan earth hour dilakukan hampir di seluruh dunia, nah saat peralihan inilah konsumsi energi justru lebih besar ketimbang saat lampu itu menyala. contoh paling gampang, kalau kita hidupkan lampu TL (orang sih nyebutnya lampu neon)kita tahu sebelum lampunya nyala starternya dulu yang nyala lalu lampunya. itu kan sebenernya butuh energi yang lebih besar.
Jadi, sampai saat ini kalau katanya earth hour itu dapat mengurangi konsumsi energi, saya sendiri malah masih ragu.
Yah itulah kenapa sampe sekarang saya termasuk orang-orang skeptis tentang earth hour. mungkin ilmu yang saya dapat memang gak banyak yang cuma saya cuma tahu itu. kalau beda pendapat boleh-boleh aja dong..

more..

Hisab vs Rukyat.. kok Selalu ya..?

kenapa sih, kok terus-terusan orang-orang yg punya ilmu agama mumpuni selalu berantem waktu nentuin bulan Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah? kenapa kok satu sama lain selalu menyalahkan cara menentukan ketiga bulan tersebut? Hisab dipermasalahkan karena (katanya) nggak ada dalilnya dan menjurus bid'ah, dan rukyat dinilai sudah mulai susah untuk diandalkan dikarenakan banyak faktor. Padahal semua itu nggak ada yang salah kok, rukyat memang punya dalilnya sendiri dan hisab ada sendiri.
Nah, mengapa kok saya berani ngomong keduanya memiliki dalilnya sendiri-sendiri, saya ingin mencoba menjelaskan tentang keduanya bermodal ilmu yang nggak begitu tinggi.
Perbedaan dalam penentuan bulan qamariyah, khususnya bulan Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah sudah terjadi beberapa abad lalu dalam peradaban Islam. ada dua pandangan yang terkait dengan penentuan bulan Qamariyah, yaitu

  1. Yang menyatakan bahwa penentuan bulan Qamariyah adalah dengan rukyat, yaitu melihat bulan baru secara fisik dan nyata yang didukung sebagian besar para ulama
  2. Yang menyatakan bahwa penentuan bulan qamariyah dengan hisab falaki dan terkadang dipandang lebih utama dikarenakan cara rukyat terkadang susah dan tidak akurat. ini didukung dengan perkembangan ilmu falakiyah atau astronomi yang semakin berkembang.  pandangan ini didukung oleh beberapa ulama-ulama besar seperti  Muhammad Rasyid Ridha, Mustafa Ahmad az-Zarqa, Ahmad Syakir dan Yusuf al-Qaradawi.
Untuk dalilnya, banyak kok. cuma saya nggak bisa nulis satu-satu. lantaran terbatasnya ilmu tapi yang jelas, apapun itu nggak ada yang salah. dan juga renungkan. kalender qomariah sampe saat ini masih kalah sama kalender syamsiyah. mengapa? karena kalender qomariah belum ada kepastian dalam penentuannya. Semoga ke depannya bisa akur dan bisa dibuat kalender tetapnya.
more..

Setan pun Masuk Masjid

ingat sama salah satu artikel di forum kenamaan indonesia, yang juga cerita masalah ini. 'setan pun masuk masjid' begitulah seingat saya, eits.. ini bukan berarti setan mau tobat, tapi baca dulu deh, begini ceritanya.

dikisahkan ada seorang ahli ibadah yang sedang berada di masjid dan mendapati setan yang sedang berdiam di dalam masjid. sang ahli ibadah bertanya kepada si setan,"ada maksud apa kau berada di sini,setan? apa kau mau bertaubat?" setan menjawab," tidak, aku tak ingin bertaubat.
"lantas, apa yang ingin kau lakukan di dalam masjid ini?" tanya sang ahli ibadah "Aku hanya menjaga sajadah ini," kata setan
"menjaga sajadah? memang apa untungnya kau menjagah sajadah?" tanya sang ahli ibadah
"begini, sajadah ini adalah barang perdaganhan tuanku, seorang pengusaha karpet yang sangat terkenal. aku telah mempengaruhinya untuk membuat sajadah yang seperti aku jaga ini, ya sajadah yang berukuran sangat lebar ini", terang setan
"dari sajadah yang lebar ini aku mempengaruhi sang pemilik sajadah untuk memakainya sendiri sehingga tidak untuk dipakai bersama dengan orang yang di sebelahnya saat ia melakukan shalat berjamaah di masjid. pada saat itulah aku akan masuk di sela-sela mereka untuk mengganggu mereka yang shalat berjamaah." lanjut si setan.
"Astaghfirullahaladzim, Nauduzubillah.. engkau tetap setan yang tidak berubah," kata sang ahli ibadah.
jadi.. dari kisah di atas mestinya kalau kita shalat berjamaah shaf kita harus benar-benar rapat. yah kira-kira kaki kita selebar bahu, sehingga orang yang ada di sebelah kita bisa merapat ke kita dan tidak ada celah lowong untuk dimasuki setan. dan ingat "kesempurnaan shaf kita termasuk kesempurnaan shalat berjamah"

more..